Thursday, July 19, 2012

RAHASIA 40 HARI TAKBIR PERTAMA SHALAT BERJAMAAH


     Sesiapa yang menjaga shalat berjama'ah hingga tidak pernah tertinggal dari takbiratul ihram imam selama 40 hari, maka ia akan mendapat penjagaan Allah dari melakukan kenifakan sehingga di akhirat akan terbebas dari api neraka. Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

"Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan." (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami)

Al-'Allamah al-Thiibi rahimahullah menjelaskan hadits ini, ”Ia dilindungi di dunia ini dari melakukan perbuatan kemunafikan dan diberi taufiq untuk melakukan amalan kaum ikhlas. Sedangkan di akhirat, ia dilindungi dari adzab yang ditimpakan kepada orang munafik dan diberi kesaksian bahwa ia bukan seorang munafik. Yakni jika kaum munafik melakukan shalat, maka mereka shalat dengan bermalas-malasan. Dan keadaannya ini berbeda dengan keadaan mereka.” (Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi I/201).

Di dalam hadits ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan keutamaan dan janji di atas:

- Melaksanakan shalat dengan ikhlas untuk Allah.
- Shalat tersebut dilaksanakan dengan berjama'ah.
- Menjaga jama'ah selama 40 hari (sehari semalam).
- Mendapatkan takbiratul ihramnya imam secara berturut-turut.

( Rutin tanpa terputus )

Dzahir hadits menunjukkan syarat untuk terus-menerus selama 40 hari, tanpa diselang dengan absen dari jama'ah atau terlambat. Hal tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu:

مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

"Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka'atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan." (HR. Al-Baihaqi, Syu'abul Iman, no. 2746)

Kata "Muwadhabah" menuntut dilakukan berturut-turut dan tidak diselang dengan absen dari berjama'ah atau masbuq (terlambat) sehingga tidak mendapatkan takbiratul ihram imam.

Kesimpulannya, pahala yang disebutkan dalam hadits hanya bagi orang yang telah melaksanakan shalat berjama'ah selama 40 hari dan mendapatkan takbiratul ihram imam secara terus menerus. Dan diharapkan bagi setiap orang yang berusaha mendapatkan takbiratul ihram imam dalam jama'ah mana saja (di masjid jami' atau di mushala) supaya mendapatkan pahala yang dijanjikan itu dan tidak dikurangi sedikitpun.

Tapi, tidak diragukan lagi seseorang mendapatkan pahala sesuai dengan kemampuannya. "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik". Dan semoga Allah menyampaikannya pada niatnya, karena amal bergantung kepada niat. Dan jika dia ingin betul mendapatkan keutamaan khusus yang tertera dalam hadits, hendaknya dia memulai lagi yang baru untuk mendapatkannya dengan memenuhi syarat yang telah disebutkan di atas.

( Teladan )

Para ulama shaleh dan imam besar terdahulu sangat memperhatikan persoalan ini. Mereka benar-benar menjaga shalat berjama'ah dan mendapatkan takbiratul ihramnya imam.

Sa'id bin Musayyib pernah berkata, "Aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat (berjama'ah) selama 50 tahun. Aku juga tidak pernah melihat punggung para jama'ah, karena aku berada di barisan terdepan selama 50 tahun." (Hilyah Auliya: 2/163)

Dalam keterangan yang lain beliau pernah menyatakan, "Sejak tiga puluh tahun, tidaklah seorang mu'adzin mengumandangkan adzan kecuali aku sudah berada di masjid."

Muhammad bin Sama'ah at Tamimi rahimahullah menyatakan selama empat puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihramnya imam, kecuali ketika ibunya meninggal."

Orang yang bersemangat untuk mendapatkan takbiratul ihram imam dalam setiap shalat menunjukkan kuatnya agama atau keimanan orang tersebut. Karenanya, hendaknya seorang muslim mendidik dirinya untuk menjaga syiar Islam yang agung ini, memperhatikan dan menjaga shalat berjamaah serta berusaha mendapatkan takbir pertama imam.

Hendaknya dapat dipahami juga seseorang harus memahami Shalatnya, dimulai dari takbir membesarkan Allah artinya harus mendahulukan semua perintah Allah SWT terutama yang wajib dan pokok. Takbir menuntut keseriusan sebagai hasil shalat yang benar. Hasil Shalat terlihat kepada Nabi dan para Shahabatnya mereka berhijrah meninggalkan kampung, hartanya, usahanya demi menegakkan Agama Allah, jadi memang sebenarnya Allah dibesarkan tanpa keraguan.

Banyaknya hadist akhir zaman seperti di bahasan sebelumnya, dimana disebutkan betapa banyaknya orang Islam yang shalat tetapi dinilai tidak shalat karena dia tidak mengimplementasikan fungsi Shalat. Shalat sebagai pengingat, membesarkan Allah dan jalan-Nya, mentaati sepenuh hatinya dari pada hawa nafsu, kemaksiatan, klien, kerjaan motifasi dan niatan selain Allah hendaknya dijauhi sebagai bukti membesarkan Allah.

bukan sumber admin

Thursday, June 28, 2012

Ikrar Muslimin

http://www.niknasri.com/wp-content/uploads/2010/05/Tuntutan-2-kalimah-Syahadah1.jpg

Penyakit Hati


Hadhrat Mufti-e-Azam Muhammad Shafi’ (nawarrallahu marqaduhu) says,


“But the big difference of spiritual diseases and their cure is, that physical diseases can be realized by the eyes or other senses, they can be found out through the motion of pulse and tests of blood and faeces and the therapy can be done by medical instruments and medicine, too. But the spiritual diseases are not visible for the eyes, nor can they be recognized by the pulse or anything else, in the same way they are not cured by given aliments or medicines. The diagnosis and cure of these diseases can be only determined by the rules told by the Qur’an and Sunnah. The complete system for the Islah [rectification] of all the outward ‘Amaal and Mu’amalat and the inner ‘Aqaid and Akhlaq does exist in the Qur’an and Sunnah.






In the Ummah from the Sahabah and Tabi’een onwards till the Saliheen and Kamileen of the present age whosoever has gained any perfection then only through this system, the complete adherence to actions. The same way they would be adherent to Salah, Sauwm, Hajj and Zakat the exactly same way they would show perfection in Sidq [truthfulness], Ikhlas [sincerity], Tauheed [oneness of Allah], Tawwadhu [humility], Sabr [patience], Shukr [thankfulness], Tawakkul [to entrust], Zuhd [asceticism] and other inner actions. The way they saved themselves out of fear from lies, fraud, stealing, shameless and other sins the exactly same way they would know Kibr [arrogance] and pride, disgracing and disreputing others, Hubb-e-Jah [love for fame], Hubb-e-Maal [love for wealth], Hirs [greed], Bukhl [being stingy] and other inner sins as forbidden and would stay abstinent from them.”


[translated from "Dil ki Dunya"]


http://truelife200vi.wordpress.com/category/5-tasawwuf/bad-qualities/

Kematian pedoman kehidupan III


Disebabkan asyik diburu rasa takut kepada kematian, lantas mereka sentiasa dihantui rasa cemas, takut yang tidak bersebab. Kemudian muncul rasa berputus asa terhadap rahmat Allah dalam menerus kehidupan.

Golongan berkenaan mengalami trauma emosi yang mendorong kepada terbinanya sikap negatif terhadap alur kehidupan. Hamka berkata, walaupun golongan seumpama itu takut munculnya kematian, perubahan sikap untuk berubah kepada kebaikan tidak juga muncul dalam diri.

Sementara kategori ketiga adalah mereka yang mengingati mati dengan akal budi dan hikmah yang tinggi. Mereka menjadikan peristiwa kematian sebagai dorongan untuk berubah.

Segala perintah Allah dilaksanakan dan segala larangan dijauhi. Ingatlah satu peringa tan Rasulullah berkenaan kematian.

Kisah dialog antara Abu Zar dengan Rasulullah, dikatakan Abu Zar bertanya kepada Baginda berkenaan isi kandungan Suhuf yang diturunkan kepada Nabi Musa lalu kata Baginda, “Sesungguhnya itu mempunyai pengajaran. Aku hairan manusia yang meyakini kematian, tetapi tetap riang gembira terhadap manusia yang meyakini mereka, tetapi tetap tertawa terhadap manusia yang meyakini takdir, tetapi bersusah payah melakukan sesuatu (tanpa tawakal) terhadap manusia yang yakin akan kehancuran dunia dan penghuninya, tetapi tetap tenang di atasnya dan terhadap manusia yang meyakini adanya hisab, tetapi tetap terus tidak beramal (kebaikan).” (Hadis riwayat Ibnu Hibban).

Kita seharusnya memfokuskan jalan kehidupan atas landasan agama yang benar dan jangan sesekali membiarkan diri ditakluki hasutan syaitan.



http://epondok.wordpress.com/2012/06/24/kematian-pedoman-kehidupan/

Wednesday, June 27, 2012

Hadith: Doa




Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'".
(Shahih Muslim no. 2733)

Wallpaper Doa Penerang Hati

Untuk dapatkan wallpaper, klik link bawah:






http://www.syahzul.com/free/wallpaper-doa-penerang-hati/

Kematian pedoman kehidupan II


Itulah anugerah Allah kepada orang beriman, bertakwa dan aktif dalam amal soleh. Sebaliknya jika sejarah hitam yang penuh dosa dan mungkar kita berhadapan dengan jurang neraka.

Bagaimana sikap yang perlu kita miliki terhadap kematian? Dalam hal itu, kita teliti apa yang pernah dikemukakan ilmuwan nusantara tersohor yang juga seorang ulama terbilang Profesor Hamka, katanya terdapat tiga sikap manusia dalam menghadapi persoalan kematian.




Pertama, golongan yang tidak langsung mengingati kematian. Kata Hamka, golongan itu tidak terbayang dalam kotak pemikiran dan tidak menzahirkan dalam amalan yang menunjukkan mereka berhadapan dengan ajal suatu ketika nanti.

Mereka dalam kategori itu lebih sibuk dengan hal ehwal keduniaan sama ada membabit kan urusan harta benda mahu pun anak isteri. Mereka hanyut buai keasyikan nikmat dunia lalu tiada lagi istilah kematian yang berlegar dalam minda fikir.

Kata Hamka, golongan seperti itu adalah mereka yang rugi tatkala nyawa berakhir hayatnya. Senario semasa yang dunia masa kini masih tebal dihantui dengan aneka ragam gejala sosial melambangkan kategori insan yang lupa hakikat kematian.

Mungkin mereka berasakan yang diri mereka masih muda atau berasa masih bertenaga kuat. Jika begini gaya pemikirannya, ternyata mereka silap perhitungan.

Ajal maut itu boleh datang secara tiba-tiba dan tiada sesiapa mampu ‘mengintip’ rahsia Allah bilakah saatnya tarikh dan waktu sebenar kematian kita.

Terdapat insan yang diulit keghairahan mengaut untung dunia dengan memperbanyakkan koleksi harta, namun begitu liat berzakat atau bersedekah.

Sikap rakus dan tamak menakluki diri dan jiwa hingga tidak nampak kedaifan
golongan miskin yang perlukan bantuan. Paradigma serong dan terpesong itu terus dianuti hingga akhirnya ajal mengundang. Di saat itu penyesalan sudah tidak berguna lagi.

Golongan kedua adalah mereka yang takut menghadapi kematian iaitu sentiasa mengingatinya khususnya ketika bersendirian di samping itu proaktif memikirkan impak kematian terhadap diri sendiri, hartanya, ahli keluarganya dan segala-galanya yang disayangi selama ini.


Monday, June 25, 2012

Doa untuk Memperbaiki Agama dan Dunia




اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ 

الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ 

الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ 

شَرٍّ


“Allahumma ashlihlii diinii lladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlihlii dunyaya llatii fiihaa ma’asyii, wa ashlihlii akhirotii llatii fiihaa ma’adii, waj’alilhayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarr.” (HR. Muslim)

Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini penambah kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejelekan.






Kematian pedoman kehidupan I


SETINGGI mana sekalipun pangkat disandang, sekuat mana fizikal atau harta banyak bertimbun, apabila sudah sampai masa nya malaikat Izrail pasti datang menghampiri bagi mengakhiri episod kehidupan kita di dunia ini.

Jenazah dimandikan, dikafankan dengan kain serba putih, kemudian disembahyangkan, diusung ke tanah perkuburan dan akhirnya dimasukkan ke liang lahad.





Demikian babak terakhir perjalanan kehidupan manusia. Pernahkah kita menginsafi hakikat itu dan pernahkah kita membayang kan diri kita sendiri diusung sebagai jenazah itu?

Ingatlah peringatan Allah, “Setiap yang bernyawa pasti merasai mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai dugaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Maksud Surah al-Anbiya ayat 35).

Pesanan Allah itu perlu kita wartakan sekemas-kemasnya dalam minda supaya sentiasa mengingati kematian. Menerusi kaedah itu saja kita dipandu arah yang luhur.

Alam kubur atau alam barzakh adalah taman dari taman-taman syurga atau boleh menjadi jurang dari jurang neraka. Seandainya amalan yang meraih pahala kita bawa bersama bermakna kita berada dalam taman syurga meski pun masih di tahap alam barzakh.


ANTARA AKIDAH SYI’AH YANG MENYELEWENG DAN BERCANGGAH DENGAN SUNNAH WALJAMAAH


AGAMA SYI‘AH - Penyelewengan Al-Quran. Golongan Syi’ah terutamanya ulama-ulama yang menjadi paksi kepada agama mereka beri’tiqad bahawa al-Quran yang dihimpunkan oleh sahabat-sahabat r.a. dan berada di tangan umat Islam sekarang telah diselewengkan dan ditokok tambah. Antaranya Sayyid Ni`matullah al-Jazaairi mengatakan: “Bahawa tokoh-tokoh Syi‘ah telah sepakat tentang sahihnya hadits-hadits yang sampai ke peringkat mutawaatir yang menunjukkan dengan jelas tentang berlakunya penyelewengan al-Quran (An-Nuuri At-Thabarsi, Fashlu al-Khitaab, hal. 30). Pegangan tersebut adalah berdasarkan kepada lebih daripada dua ribu riwayat sahih daripada imam-imam maksum di sisi mereka yang jelas menunjukkan berlakunya tahrif (penyelewengan) di dalam al- Quran.

AGAMA ISLAM- Ulama-ulama Islam sepakat bahawa kepercayaan bahawa al-Quran telah diselewengkan adalah satu kekufuran. Ibnu Qudamah berkata: “Tiada khilaf di kalangan orang-orang Islam pendapat tentang kufurnya orang yang mengingkari al-Quran sama ada satu surah atau satu ayat atau satu kalimah yang disepakati bahawa ia adalah al- Quran.” (Lam’ah al-I’tiqad Bab Al-Quran Adalah Kalam Allah jil. 1 hal. 17).

AGAMA SYI‘AH- Kepercayaan Bahawa Imam 12 dilantik dari pihak Allah, Mempunyai Sifat- Sifat Kenabian Bahkan Imam Dianggap Lebih Tinggi Daripada Nabi. Dinyatakan dalam Kitab `Aqaid al-Imamiah oleh Syeikh Muhammad Redha al-Muzaffar, hal. 72: Akidah Kami Tentang Imam itu Maksum Kami mempercayai bahawa imam-imam itu seperti nabi-nabi, ia wajib maksum dan terpelihara daripada sifat-sifat yang buruk dan keji yang nyata dan yang tersembunyi, semenjak daripada kecil sehinggalah mati, sengaja atau lupa sebagaimana mereka juga terpelihara daripada sifat lupa, tersalah dan lain-lain. Khomeini menyatakan: “Kita tidak dapat menggambarkan para imam itu mempunyai sifat lupa dan lalai.” (Khomeini, Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 91) Khomeini berkata lagi: "Sesungguhnya imam itu mempunyai kedudukan yang terpuji yang tidak sampai kepadanya malaikat yang hampir kepada Allah dan nabi lagi rasul". (Al-Hukumah al-Islamiah – hal 52)

AGAMA ISLAM- Maksum adalah sifat khusus para nabi dan rasul. Memberikan sifat tersebut kepada orang lain selain dari mereka bermakna menafikan ‘akidah bahawa Nabi Muhammad s.a.w. adalah penyudah sekalian nabi-nabi. Allah berfirman: “Nabi Muhammad itu bukan bapa bagi seseorang dari orang lelaki kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup Nabi-nabi.” (Al-Ahzab 40)

AGAMA SYI‘AH- Al-Bada.’ Dari segi bahasa al-Bada' bermaksud nyata sesuatu yang sebelumnya tersembunyi. Menurut akidah Syi‘ah, al-Bada' ialah ilmu Allah berubah-ubah berdasarkan sesuatu peristiwa yang berlaku. Dalam kata lain, Allah mengetahui sesuatu perkara hanya selepas berlakunya perkara tersebut. Ini bermaksud Allah jahil atau tidak mempunyai ilmu yang meliputi. An-Naubakhti menyebutkan bahawa Ja’afar bin Muhammad al-Baqir telah menentukan anaknya Ismail sebagai Imam sesudahnya (sebagaimana ketentuan Allah kerana Syi’ah mengatakan imam-imam dilantik dari pihak Allah) dan beliau telah mengisyaratkan kepadanya semasa hidup lagi, tiba-tiba Ismail mati ketika beliau masih hidup. Maka Ja’afar pun berkata: “Tidak pernah berlaku kepada Allah (al-Bada’) berhubung dengan sesuatu seperti mana berlaku kepadanya berhubung dengan Ismail anakku.” (Firaq as-Syiah hal. 84).

AGAMA ISLAM- Ilmu Allah sejak azali adalah meliputi segala sesuatu dan tidak berlaku sebarang perubahan kepadanya mengikut peristiwa yang berlaku kepada manusia. Allah menjelaskan perkara ini di dalam al-Quran al- Karim: "Allah mengetahui pengkhianatan (penyelewengan dan tidak jujur) pandangan mata seseorang, serta mengetahui akan apa yang tersembunyi di dalam hati.”(Al-Mukmin 19). Dan: “Dan sesungguhnya Allah ilmunya meliputi segala sesuatu”.(Al-Talaq 12).

AGAMA SYI‘AH - Taqiyyah (Berpura-pura). Taqiyyah merupakan konsep atau ciri penting yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Syi‘ah . Taqiyyah pada hakikatnya adalah “berdusta dan berbohong”. Riwayat-riwayat tentang pentingnya taqiyyah di sisi Syi’ah banyak terdapat di dalam kitab-kitab utama mereka. Antaranya apa yang dikemukakan oleh al-Kulaini: Abu Umar al-A'jami katanya Ja’far as-Sadiq a.s. berkata kepadaku "Wahai Abu Umar, Sesungguhnya sembilan persepuluh daripada agama itu terletak pada Taqiyyah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak mempunyai Taqiyyah dan Taqiyyah itu ada pada tiap-tiap sesuatu, kecuali dalam masalah arak dan menyapu dua khuf (al-Usul Min al-Kafi, jil. 2 hal. 217).” Di antara hakikat taqiyyah ialah apa yang disebutkan oleh Imam Jaa’far As- Sadiq a.s. kepada Sulaiman bin Khalid (perawi hadis): “Wahai Sulaiman! Sesungguhnya engkau berada di atas agama yang sesiapa menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan sesiapa yang menyebarkannya akan dihina oleh Allah.” (Al-Kafi jil. 2, hal. 222)

AGAMA ISLAM - Jujur dan amanah adalah merupakan ciri penting di dalam Islam sehingga ia menjadi salah satu syarat kesempurnaan iman. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak beriman orang yang tidak mempunyai sifat amanah.” (Riwayat Imam Ahmad). Kerana itu ulama Islam di zaman lampau tidak mahu menerima riwayat yang dikemukakan oleh Syi‘ah kerana mereka mengamalkan pembohongan. Sehubungan dengan itu Imam Syafie berkata: “Tidak pernah aku melihat golongan yang menurut hawa nafsu yang lebih pembohong dari golongan Syi‘ah .” (Al-Kifayah, hal. 49, as- Suyuti, Tadrib Ar-Rawi, jilid 1, hal. 327)

AGAMA SYI‘AH - Mengkafirkan Para Sahabat Rasulullah s.a.w. Akidah ini merupakan salah satu ciri yang tidak dapat dipisahkan dari ajaran Syi’ah dan memisahkannya bermakna meruntuhkan ajaran Syi’ah itu sendiri. Al-Majlisi mengemukakan satu riwayat berbunyi: Kebanyakan sahabat adalah munafik, tetapi cahaya nifaq tersembunyi di zaman nabi. Tetapi apabila wafat Nabi s.a.w ternyatalah cahaya nifaq itu melalui wasiat Nabi s.a.w. dan mereka itu kembali murtad”. (Bihar al-Anwar jil. 27, hal 64). Al-Kulaini meriwayatkan dari Muhammad al-Baqir a.s. katanya: “Para sahabat telah menjadi murtad sepeninggalan Rasullullah s.a.w kecuali tiga orang dari mereka.” Aku bertanya (kata perawi): “Siapakah yang tiga itu?” Abu Jaafar menjawab: “Miqdad bin al-Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al- Farisi.”(ar-Raudhah Min al-Kafi, jil. 8 hal 245)

AGAMA ISLAM - Keadilan dan kedudukan sahabat yang tinggi adalah jelas berdasarkan al-Quran. Antaranya: “Dan orang-orang yang terdahulu yang mula-mula (berhijrah dan memberi bantuan) dari orang-orang "Muhajirin" dan "Ansar" dan orang-orang yang menurut (jejak langkah) mereka dengan kebaikan (iman dan taat), Allah redha akan mereka dan mereka pula redha akan Dia, serta Dia menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; itulah kemenangan yang besar”.(at-Taubah 100). Mengingkari yang sahabat adalah adil bererti mengingkari al-Quran.

AGAMA SYI‘AH - Menghalalkan Nikah Mut'ah. Nikah Mut’ah adalah sebenarnya perzinaan di atas nama Islam. Nikah Mut’ah ialah satu bentuk perkahwinan kontrak tanpa wali dan saksi, untuk suatu tempoh waktu tertentu dengan sedikit maskahwin sahaja dengan tiada sebarang tanggungjawab, nafkah, pusaka dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan perkahwinan biasa. (al-Kafi jilid 5, ms 286), Perkahwinan ini semata-mata berlandaskan nafsu dan untuk berseronok. Boleh dikahwini sehingga seribu wanita (Wasaailu As Syiah jil. 14 hal. 480). Diriwayatkan daripada Muhammad Al-Baqir berkenaan mut'ah katanya: “Ianya bukan termasuk daripada empat (isteri). Mereka tidak diceraikan dan tidak mewarisi. Mereka hanyalah perempuan yang disewakan.” (al-Kafi jilid 5, ms 284). Tidak menganggap halal mut’ah seolah-olah tidak beriman. Diriwayatkan daripada Muhammad al-Baqir katanya: “Bukan dari kalangan kami orang yang tidak mempercayai raj’ah dan tidak menganggap halal mut’ah kita”. (Man La Yahduruhu al- Faqih jil.3 hal 458)

AGAMA ISLAM - Nikah Mut'ah yang diamalkan oleh Syi’ah tiada bezanya dengan perzinaan dan pelacuran di samping merendahkan martabat wanita serendah-rendahnya. Kerana itu ia telah diharamkan oleh Nabi Muhammad s.a.w buat selama-lamanya sehingga hari kiamat menerusi hadits-hadits sahih sebelum Baginda wafat melalui beberapa orang sahabat dan salah seorangnya adalah Saidina Ali sendiri seperti katanya: "Bahawa Rasulullah s.a.w. melarang nikah mut'ah pada hari peperangan Khaibar dan melarang juga memakan daging keldai kampung." (Riwayat Ibn Majah dan al-Nasa’i)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...